Wednesday, June 15, 2016

PM Suka Menulis

Hari Sabtu yang lalu saya bangun dengan satu pertanyaan terbersit di kepala: bisakah sebuah akun Twitter dipakai untuk broadcast beberapa blog sekaligus?

Buka browser, cek: ah, tentu saja sudah ada yang pernah tanya di Quora. Dari situ saya penasaran mencoba, lalu bikin akun twitter untuk uji cobanya (@tetulisan). Yang menariknya lagi, saya jadi tahu kalau prosesnya bisa diotomatisasi dengan cara RSS blog tersebut digabung jadi satu RSS dulu. Lepas itu, baru RSS gabungannya dipakai untuk disambungkan ke Twitter.

Percobaan pertama saya pakai blog ini, blog Shally, blog Awe, blog Mbak Yanti, dan blog Angga. Persamaan kami semua? Sama-sama alumni pengajar muda, sama-sama punya blog (duh), dan sama-sama ada di grup WhatsApp PM Suka Menulis. 



Saya coba gabungkan dengan RSSMix, sambungkan ke Twitter dengan dlvr.it, tes. Sukses.




Siangnya saya buka tawaran untuk yang berminat blognya disambungkan ke twitter ini. Responnya macam-macam. Banyak yang sigap (dikomandoi oleh Hety), ada yang ga yakin Tumblr punya RSS (Rini), ada yang siwer dan malah ngasih alamat e-mail alih-alih blog (Hanan), ada yang beralih nawarin nonton teater JKT48 (Awe), dan beberapa mengaku galau dan ga pede karena "kebanyakan nyampah pribadi" (Fahmi, Rayi).

Di penghujung akhir pekan, ada 22 alamat blog berjejer (kurang lebih) rapi. Dari sini saya belajar beberapa hal baru:

1. RSSMix bisa ngegabungin RSS dengan sangat simpel. Total no-brainer. Tapi ternyata ga memungkinkan untuk menyunting RSS sumber ke RSS gabungan. Begitu udah digenerate, kalau mau ditambahin blog baru, URL mix RSSnya akan berubah. Ketika Senin pagi saya rekap jadi http://www.rssmix.com/u/8195385/rss.xml, kalau saya tambahkan feed blog yang menyusul belakangan, RSSnya akan berubah. Ini berarti kalau ada yang menambahkan dari RSS mix di atas tidak akan dapat pembaruan dari blog-blog alumni PM yang saya tambahkan belakangan. Saat ini feed yang terbaru saya taruh di halaman profil @tetulisan.

2. Untuk integrasi ke Twitter, saya coba tiga alat: dlvr.ittwibble.io, dan twitterfeed.com

2a. Saya paling suka dlvr.it sebetulnya, yang saya coba pertama. Tapi versi gratisnya maksimal cuma 5 RSS, dan RSS bersama dari RSS mix di atas ditolak karena lebih besar dari 512 kb. (sementara langganan per tahun $100). Kalau saya tahu bakal sampai 30an lebih anggota grup tertarik, saya mungkin akan menawarkan opsi urun dana. Tapi saya malas ngurusin printilan transfernya. Jadilah saya cari alternatif lain.


2b. Twibble.io ternyata mampu handle RSS gabungan, tapi dia nempel link campaign twibble.io yang bikin tweetnya terlalu riuh sampai jadi agak geuleuh. Plus, karena RSS gabungan yang dipakai, saya ga bisa set untuk nge-tag siapa yang menulis.



2c. Twitterfeed.com sebenernya UI-nya saya ga suka, tapi ternyata dia yang paling fleksibel. Sejauh ini bisa dipasang 35 feed (dan gratis). 


Dengan Twitterfeed.com, saya awalnya berniat mau pakai dari RSSmixnya saja, supaya satu feed saja gampang. Tapi ini membuat tweetnya tidak bisa dimodifikasi agar ada tulisan dari blog siapa yang dicuitkan. Maka saya jadinya masukin feednya satu-satu.



Komentar Shally, saya ini merepotkan diri. Memang sih, saya bisa pake Java untuk otomatisasi, tapi malas ah memfamiliarkan diri dengan bahasa baru di hari Minggu. (Plus berkelitnya mudah, mau coba R dulu).

3. Ada beberapa blog yang gagal dimasukkan. Awalnya, punya Suhar karena dari blognya ngga ada RSS-nya ("no valid URL was provided", kata chimpfeedr), sementara kalau dari Mas Arif (http://ariflukman.com/feed/) gagalnya karena "Your feed might be empty or missing publish dates or GUIDs. A feed needs to contain publish dates or GUIDs in order to work with twitterfeed, see help". Punya Suhar setelah diutik-utik jadi bisa juga sih.

4. Hampir tidak terkait, tapi ternyata blog yang alamatnya bukan nama si empunya itu barang yang lumayan langka. Termasuk saya dan Mbak Yanti, hanya ada enam blog yang tidak ada unsur nama di tautannya. Sebagian malah punya domain sendiri dengan namanya. Tapi saya mah sadar diri, nama saya sulit dieja, kalau pakai nama diri pasti orang lebih susah ingatnya. Sementara itu, gagang pintu kuning kalaupun nyasar paling cuma nyasar ke Inggris, Brasil, atau Kazakhstan.

yellow.door.knob di sistem alamat what3words.com
Sekarang, lalu apa? Ya sudah, saya tinggal ikuti akun twitternya (@tetulisan), dan lihat apakah ada tulisan yang menarik minat saya. (Sambil berharap yang pada nulis bisa membedakan di sebagai kata depan dan di- sebagai awalan. Karena ternyata masih banyak saja yang menulis "di jual" dan "dimana". Kedua contoh barusan salah, karena yang betul adalah "dijual" dan "di mana".)

Mari membaca!

2 comments:

Alia Makki said...

Terus kalau bukan alumni pengajar muda, ga usah ikutan nimbrung ato baca, gitu?
#PenulisKurangGaul
#NyinyirAmaYangPunyaTongkronganEnak
#NebengBekenAjaBolehGa

Masyhur Hilmy said...

Boleh nimbrung koook :)) Bebas wae mah, tinggal dipilih aja dari yang ditweet @tetulisan trus langsung ke tkp empunya tulisan masing-masing.